Photobucket
English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Tampilkan postingan dengan label Cara Membuat Puisi yang Sesuai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cara Membuat Puisi yang Sesuai. Tampilkan semua postingan

Cara Mengirim Cerpen


Cerpen yang kamu buat udah sejibun, jangan cuma disimpan di file atau cuma dibaca sendiri doang, kenapa tidak dikirimkan ke Majalah atau tabloid. Siapa tahu dimuat. Ini aku kasih bocoran beberapa alamat Majalah dan Tabloid, catet yaa..

1. Tabloid Gaul
Jln. Kedoya Duri raya No.36 Kebon Jeruk Jakarta 11520

2. Majalah Story (Majalah Khusus cerpen)
E-mail : story_magazine@yahoo.com

3. Majalah Teens
Jln. Guru Mughni No.2 Karet Kuningan
Jakarta Selatan 12940

4. Majalah Kartika (Majalah Wanita Dewasa)
Jln. Garuda 82-C
Kemayoran Jakarta 10620
e-mail : majalahkartika@yahoo.com

5. Majalah Says! ( Majalah Khusus cerpen)
Jln. Alaydrus 45 Jakarta
e-mail ; redaksi@majalahsay.com

6. Majalah Gadis
Jln. HR. Rasuna said Kavling B 32-33
Jakarta 12910
e-mail: Redaksi.GADIS@feminagroup.com

7. Majalah Chic
e-mail : Chic@gramedia-majalah.com
chicstory@gramedia-majalah.com

8. Majalah kawanku
e-mail : fiksi-kawanku@gramedia-majalah.com
cerpenkawanku@gmail.com

9. Tabloid Nova
NOVA@GRAMEDIA-MAJALAH.COM

10. Majalah Sekar
e-mail ; Sekar@gramedia-majalah.com

11. Majalah Hai (Majalah cowok/cerpennya yg cowok banget!)
e-mail : Hai-magazine@gramedia-majalah.com

12. Majalah Girls (pre teens, anak 12-15 tahunan)
Girls@gramedia-majalah.com

13. Majalah Horison (majalah sastra)
e-mail :
horisonpuisi@gmail.com
horisoncerpen@gmail.com

14. Majalah Go Girl
Jln. Kebayoran Lama Raya No 236
Jakarta Barat


15. Majalah Aneka
aneka@indosat.net.id


Jangan lupa cantumin biodata kamu, no hp. dan no.rekening kamu kalo belum punya alamat harus jelas yaa…Selamat Mencoba. Kalo berhasil dimuat kasih kabar yaa…
 

37 cara menulis puisi yang baik


Cara untuk menulis puisi yang bagus
1 Apakah suku kata, kata-kata dan aliran bait.
2. Mulai bait baru ketika perubahan ide, ritme atau sajak terjadi.
3. Buat sajak alam. Atau sajak lainnya
4. Buat emosi.
5.Katakanlah tidak lebih dari apa yang perlu dikatakan.
6. Menulis tentang kehidupan. Cinta.ketuhanan dll
7. Menulis tentang alam.

8.   menciptakan perasaan pembaca
9.   Memberikan rincian.
10. Jangan malu untuk menulis sesuatu yang pribadi.
11. Studi dan meniru penyair lainnya.
12. Cobalah gaya yang berbeda.
13.  Memvariasikan kata-kata Anda.
14. Menulis tentang subjek yang kontroversial.
15.  Ceritakan sebuah kisah.
16. Menulis lagu.
17. Gunakan majas
18.  Cobalah berbagai jenis sajak meter.
19. Cobalah berbagai jenis sajak vokal.

Menggunakan unsur-unsur puisi
20.  Gunakan metafora.
21. Gunakan kiasan.
22.  Gunakan assonance.
23.Gunakan onomatopoeias.
24.  Gunakan aliterasi.

Gunakan panca indera
25. Buat indera penciuman.
26. Menciptakan rasa selera.
27.Membuat gambar.
28. Buat suara.
29. Buat sentuhan.

 
30. Menulis tentang laki-laki atau gadis yang Anda suka tapi suka gadis lain yang menyukai beberapa pria lain yang menyukai Anda tetapi Anda tidak menyukainya.
31. Cobalah untuk sajak setiap kalimat.
32. Cobalah untuk sajak kata-kata hanya untuk demi berima mereka.
33. Menulis puisi garis tiga, terlepas dari berapa banyak suku kata atau kata-kata yang digunakan, dan mengklaim sebagai Hati.
34.Menulis puisi baris tersusun atau lebih.

35.Menulis cerita tapi membuat garis baru setelah setiap kalimat.
36. Menulis puisi dan tidak menciptakan garis atau bait.
37.  Menulis tentang suatu kehormatan yang Anda terima bahwa tidak ada orang lain peduli.

Sejarah Puisi


Puisi, dari 'membuat' makna poesis Yunani atau 'menciptakan', memiliki sejarah panjang. Puisi sebagai seni keluar mungkin tinggal melek sendiri. Dalam masyarakat prasejarah dan kuno, puisi digunakan sebagai cara untuk merekam acara-acara kebudayaan atau bercerita. Puisi adalah antara catatan paling awal dari kebudayaan paling dengan fragmen puitis ditemukan pada monolit, batu Rune, dan prasasti.
Puisi tertua adalah Epos Gilgames. Puisi, berdasarkan sejarah Raja Gilgamesh, ditulis sekitar 3000 SM di Sumeria, Masyarakat kuno, seperti Jing Shi Cina mengembangkan kanon karya puitis untuk ritual, serta estetika, pentingnya Baru-baru ini, intelektual telah berjuang untuk menemukan definisi yang mencakup seluruh kompas puitis dari perbedaan dari hati untuk Shakespeare membandingkan puisi. Tatakiewicz, seorang sejarawan Polandia estetika, menulis dalam Konsep Puisi "puisi mengungkapkan keadaan pikiran tertentu."
Karya Aristoteles itu sangat berpengaruh di seluruh Timur Tengah selama Zaman Keemasan Islam, kemudian melalui Eropa selama Renaissance. Kemudian, aestheticians dijelaskan puisi memiliki tiga genre utama: epik, lirik dan dramatis, dengan dramatis memegang subkategori tragis dan komediSelama tradisi Barat modern awal, penyair dan aestheticians berusaha untuk membedakan puisi dari prosa dengan menggunakan pemahaman bahwa prosa ditulis dalam bentuk narasi linear dan penjelasan logis digunakan, sedangkan puisi lebih abstrak dan indah.
Teori modern kurang mengandalkan menentang prosa dan puisi untuk berfokus pada penyair sebagai seorang seniman. Perselisihan Intelektual atas definisi puisi telah meletus sepanjang abad ke-20 mengakibatkan penolakan terhadap bentuk-bentuk tradisional dan struktur puisi, bertepatan dengan mempertanyakan definisi tradisional puisi dan perbedaannya antara prosa. Baru-baru ini, post-modernis mulai merangkul peran pembaca dan menyoroti konsep puisi,menggabungkan formulir dari budaya lain dan masa lalu.

ALIRAN SENI


Berbagai aliran dalam seni rupa berkembang terus dari jaman ke jaman, antara lain :
Aliran ini merupakan suatu aliran seni rupa yang mengutamakan kesesuaian dengan keadaan mahluk hidup, alam, dan benda mati sebenarnya. Contoh yang paling terlihat adalah pada lukisan potret diri, pemandangan alam, atau landscape.
Aliran ini menunjukkan suatu keadaan sosial yang sesungguhnya dan biasanya memprihatinkan dan sedang bergejolak di dunia atau suatu tempat tertentu. Contoh aliran seni rupa ini antara lain melukiskan kemiskinan, kesedihan, atau peristiwa yang memilukan.
Aliran ini umumnya ditandai oleh tema-tema yang fantastis, penuh khayal, atau petualangan para pahlawan purba. Juga banyak menampilkan berbagai perilaku dan karakter manusia yang dilebih-lebihkan.
Para pelukis ini antara lain Eugene delacroik (1798-1963), Jean Baptiste Camille Corot(1796-1875) dan Rousseau (1812-1876). Gaya ini juga berkembang di Jerman, Belanda, dan Perancis.
Aliran Romantisme merupakan aliran tertua di dalam sejarah seni lukis modern Indonesia. Lukisan dengan aliran ini berusaha membangkitkan kenangan romantis dan keindahan di setiap objeknya. Pemandangan alam adalah objek yang sering diambil sebagai latar belakang lukisan.
Romantisme dirintis oleh pelukis-pelukis pada zaman penjajahan Belanda dan ditularkan kepada pelukis pribumi untuk tujuan koleksi dan galeri di zaman kolonial. Salah satu tokoh terkenal dari aliran ini adalah Raden Saleh.
Aliran ini dalam dunia seni rupa berawal dari ungkapan yang mengejek pada karya Claude Monet (1840-1926) pada saat pameran di Paris tahun 1874. Karya ini menggambarkan bunga teratai dipagi hari yang ditampilkan dalam bentuk yang samar dan warna kabur dan oleh sebagian kritikus seni disebut sebagai “impresionistik “, suatu lukisan yang menampilakan bentuk yang sederhana dan terlampau biasa.
Adalah suatu aliran dalam seni rupa yang melukiskan suasana kesedihan, kekerasan, kebahagiaan, atau keceriaan dalam ungkapan rupa yang emosional dan ekspresif. Salah seorang pelukis yang beraliran Ekspresionisme adalah Vincent van Gogh (1853-1890). Lukisan lukisannya penuh dengan ekpresi gejolak jiwa yang diakibatkan oleh penderitaan dan kegagalan dalam hidup.salah satu lukisan nya yang terkenal adalah “Malam Penuh Bintang “(1889), yang mengekspresikan gairah yang tinggi sekaligus perasaan kesepian.
Kubisme adalah suatu aliran dalam seni rupa yang bertitik tolak dari penyederhanaan bentuk-bentuk alam secara geometris (berkotak-kotak). Pada tahun 1909 berkembang aliran kubisme Analistis yang mengembangkan konsep dimensi empat dalam seni lukis. Dan dimengerti sebagai konsep dimensi ruang dan waktu dalam lukisan.
Pada setiap sudut lukisan terlihat objek yang dipecah-pecah dengan posisi waktu yang berbeda. Sedangkan Kubisme Sintetis, pelukisannya disusun dengan bidang yang berlainan yang saling tumpang dan tembus.
Adalah aliran yang cenderung melakukan usaha abstraksi terhadap objek ke dalam bentuk-bentuk geometri untuk mendapatkan sensasi tertentu. Salah satu tokoh terkenal dari aliran ini adalah Pablo Picasso.
Aliran seni ini awalnya berkembang di Rusia penggagasnya antara lain Vladimir Tattin, Antoine Pevsner, dan Naum Gabo. Gaya ini mengetengahkan berbagai karya seni berbentuk tiga dimensional namun wujudnya abstrak. Bahan-bahan yang dipergunakan adalah bahan modern seperti besi beton, kawat, bahkan plastik.
Seni ini menampilkan unsur-unsur seni rupa yang disusun tidak terbatas pada bentuk-bentuk yang ada di alam. Garis, bentuk, dan warna ditampilkan tanpa mengindahkan bentuk asli di alam. Kadinsky dan Piet Mondrian marupakan sebagian perupa beraliran abstrak ini. Seni Abstrak ini pada dasarnya berusaha memurnikan karya seni, tanpa terikat dengan wujud di alam.
Adalah gerakan seni rupa modern yang memiliki kecendrungan menihilkan hukum–hukum keindahan yang ada.Ciri utama gaya ini adalah paduan dari berbagai karya lukisan, patung atau barang tertentu dengan menambahkan unsur rupa yang tak lazim sebagai protes pada keadaan sekitarnya, seperti lukisan reproduksi lukisan “Monalisa “ karya Leonardo da Vinci tetapi diberi kumis, atau petusan laki-laki diberi dudukan dan tandatangan, kemudian dipamerkan di suatu galeri.
Adalah penggambaran dunia fantasi psikologis yang diekspresikan secara verbal, tertulis maupun visual. Bentuk-bentuk alam dideformasi, sehingga penuh fantasi dan di luar kewajaran.
Lukisan dengan aliran ini kebanyakan menyerupai bentuk-bentuk yang sering ditemui di dalam mimpi. Pelukis berusaha untuk mengabaikan bentuk secara keseluruhan kemudian mengolah setiap bagian tertentu dari objek untuk menghasilkan sensasi tertentu yang bisa dirasakan manusia tanpa harus mengerti bentuk aslinya.
Yaitu gerakan seni awal abad ke- 20 yang mengkombinasikan berbagai sumbergaya yang ada di dunia menjadi wujud seni modern. Banyak yang menjadi sumber inspirasi dari gaya seni ini. Antara lain, gaya seni primitive sejumlah suku bangsa di Afrika, karya seni pra-sejarah, seni amerika Latin, gaya esetik Mesir Purba, dan Yunani Kuno. Tokoh-tokoh seni yang menerapkan gaya ini antasra lain Picasso (disamping sebagai tokoh Kubisme), Paul Gaugguin, Georges Braque, Jean Arp, Henry Moore, dan Gabo.
Istilah seni ini umumnya disebut seni kontemporer yaitu mengelompokan gaya-gaya seni rupa yang sezaman dengan pengamat atau yang menjadi kecenderungan popular dan dipilih oleh para seniman dalam rentang lima puluh tahun terakhir hingga sekarang.
Gaya ini sering diartikan sebagai aliran yang berkembang setelah seni modern. Jika dalam seni modern lebih memusatkan kepada ekspresi pribadi dan penggalian gaya baru, dalam seni Posmodern ungkapan seni lebih ditekankan kepada semantika (makna rupa) dan semiotika (permainan tanda rupa).

SAJAK ADALAH ?

  • Sajak mengungkapkan perasaan & pemikiran penyair secara imaginative dan disusun dengan menumpukan semua kekuatan bahasa, serta bentuk luaran dan bentuk dalaman.
  • Sajak adalah puisi baru yang bebas daripada peraturan-peraturan dalam pembentukan rangkap, baris, kata-kata dan rima.
  • Sajak bersifat demikian untuk dapat mengucapkan fikiran penyair dalam cara yang lebih indah, segar dan bebas.
SIFAT-SIFAT SAJAK
  • Tidak mempunyai imbangan bunyi yang tetap
  • Sajak tidak semestinya mengemukakan pertentangan bunyi atau rima akhir di hujung tiap-tiap baris ayat atau dimana-mana juga.
  • Mempunyai rangkap, tetapi bilangan baris ayat pada serangkap tidaklah tetap.
  • Mempunyai baris-baris ayat yang membangunkan rangkap.
  • Mempunyai keharmonian atau penyesuaian yang baik antara isi dengan bahasa.
BENTUK-BENTUK SAJAK
  • Disitkhon

Sajak yang ditulis dalam bentuk dua baris bagi tiap-tiap serangkap.
  • Terzina

Sajak yang serangkapnya terdiri daripada tiga baris
  • Quantrain

Sajak yang rangkap-rangkapnya terbangun atas empat baris. Bentuknya lebih menyerupai pantun dan syair.
  • Quintain

Sajak yang rangkapnya dibentuk oleh lima baris atau kalimat
  • Sextet

Sajak yang digubah dengan pemaikaian rangkap yang terdiri daripada enam baris.
  • Oktaf (stanza)

Sajak yang rangkapnya terdiri oleh lapan baris atau kalima
ISI DALAM SESEBUAH SAJAK
  • Unsur pujaan
  • Unsur keagamaan
  • Unsur kesedihan
  • Unsur pengajaran
  • Unsur sindiran
  • Unsur percintaan
  • Unsur pengisahan
Tema sajak:-
  • Tema ialah persoalan pokok yang hendak disampaikan oleh penyair.
  • Tema diri: berdasarkan pengalaman diri.
  • Tema cinta: cinta akan kekasih, ibu bapa, tanah air, bangsa dan negara.
  • Tema masyarakat: memaparkan simpati dan nasib masyarakatnya di samping saranan penyajak tentang langkah-langkah mengatasinya.
  • Tema alam: gambaran alam seperti keindahan dan pencemaran alam.
  • Tema semangat perjuangan / nasionalisme: semnagat pahlawan negara
  • Tema ketuhanan & keagamaan: soal kesedihan, kematian, kesedaran dan sebagainya.
Maklumat adalah petikan dan rujukan daripada link: http://schools.moe.edu.sg/rjc/subjects/malay/sajak.htm
http://members.tripod.com/Bobezani/sastera.html

Karya Sastra dan Periodisasinya


A.      Karya Sastra Bentuk Prosa
Karangan prosa ialah karangan yang bersifat menerangjelaskan secara terurai mengenai suatu masalah atau hal atau peristiwa dan lain-lain. Pada dasarnya karya bentuk prosa ada dua macam, yakni karya sastra yang bersifat sastra dan karya sastra yang bersifat bukan sastra. Yang bersifat sastra merupakan karya sastra yang kreatif imajinatif, sedangkan karya sastra yang bukan astra ialah karya sastra yang nonimajinatif.
Macam Karya Sastra Bentuk Prosa
Dalam khasanah sastra Indonesia dikenal dua macam kelompok karya sastra menurut temanya, yakni karya sastra lama dan karya sastra baru. Hal itu juga berlaku bagi karya sastra bentuk prosa. Jadi, ada karya sastra prosa lama dan karya sastra prosa baru.
Perbedaan prosa lama dan prosa baru menurut Dr. J. S. Badudu adalah:
Prosa lama:
1.       Cenderung bersifat stastis, sesuai dengan keadaan masyarakat lama yang mengalami perubahan secara lambat.
2.       Istanasentris ( ceritanya sekitar kerajaan, istana, keluarga raja, bersifat
feodal).
3.       Hampir seluruhnya berbentuk hikayat, tambo atau dongeng. Pembaca
dibawa ke dalam khayal dan fantasi.
4.       Dipengaruhi oleh kesusastraan Hindu dan Arab.
5.       Ceritanya sering bersifat anonim (tanpa nama)
6.       Milik bersama
Prosa Baru:
1.       Prosa baru bersifat dinamis (senantiasa berubah sesuai dengan perkembangan masyarakat)
2.       Masyarakatnya sentris ( cerita mengambil bahan dari kehidupan masyarakat sehari-hari)
3.       Bentuknya roman, cerpen, novel, kisah, drama. Berjejak di dunia yang nyata, berdasarkan kebenaran dan kenyataan
4.       Terutama dipengaruhi oleh kesusastraan Barat
5.       Dipengaruhi siapa pengarangnya karena dinyatakan dengan jelas
6.       Tertulis
1.       Prosa lama 
Prosa lama adalah karya sastra daerah yang belum mendapat pengaruh dari sastra atau kebudayaan barat. Dalam hubungannya dengan kesusastraan Indonesia maka objek pembicaraan sastra lama ialah sastra prosa daerah Melayu yang mendapat pengaruh barat. Hal ini disebabkan oleh hubungannya yang sangat erat dengan sastra Indonesia.  Karya sastra prosa lama yang mula-mula timbul disampaikan secara lisan. Disebabkan karena belum dikenalnya bentuk tulisan. Dikenal bentuk tulisan setelah agama dan kebudayaan Islam masuk ke Indonesia, masyarakat Melayu mengenal tulisan. Sejak itulah sastra tulisan mulai dikenal dan sejak itu pulalah babak-babak sastra pertama dalam rentetan sejarah sastra Indonesia mulai ada.
Bentuk-bentuk sastra prosa lama adalah:
a.    Mite adalah dongeng yang banyak mengandung unsur-unsur ajaib dan ditokohi oleh dewa, roh halus, atau peri. Contoh Nyi Roro Kidul
b.    Legenda adalah dongeng yang dihubungkan dengan terjadinya suatu tempat. Contoh: Sangkuriang, SI Malin Kundang
c.    Fabel adalah dongeng yang pelaku utamanya adalah binatang. Contoh: Kancil
d.    Hikayat adalah suatu bentuk prosa lama yang ceritanya berisi kehidupan raja-raja dan sekitarnya serta kehidupan para dewa. Contoh: Hikayat Hang Tuah.
e.    Dongeng adalah suatu cerita yang bersifat khayal. Contoh: Cerita Pak Belalang.
f.     Cerita berbingkai adalah cerita yang di dalamnya terdapat cerita lagi yang dituturkan oleh pelaku-pelakunya. Contoh: Seribu Satu Malam
1.        Prosa Baru
Prosa baru adalah karangan prosa yang timbul setelah mendapat pengaruh sastra atau budaya Barat. Prosa baru timbul sejak pengaruh Pers masuk ke Indonesia yakni sekitar permulaan abad ke-20. Contoh: Nyai Dasima karangan G. Fransis, Siti mariah karangan H. Moekti.
Berdasarkan isi atau sifatnya prosa baru dapat digolongkan menjadi:
1.       Roman adalah cerita yang mengisahkan pelaku utama dari kecil sampai mati, mengungkap adat/aspek kehidupan suatu masyarakat secara mendetail/menyeluruh, alur bercabang-cabang, banyak digresi (pelanturan). Roman terbentuk dari pengembangan atas seluruh segi kehidupan pelaku dalam cerita tersebut. Contoh: karangan Sutan Takdir Alisjahbana: Kalah dan Manang, Grota Azzura, Layar Terkembang, dan Dian yang Tak Kunjung Padam 
2.       Riwayat adalah suatu karangan prosa yang berisi pengalaman-pengalaman hidup pengarang sendiri (otobiografi) atau bisa juga pengalaman hidup orang sejak kecil hingga dewasa atau bahkan sampai meninggal dunia. Contoh: Soeharto Anak Desa atau Prof. Dr. B.I Habibie atau  Ki hajar Dewantara.  
3.       Otobiografi adalah karya yang berisi daftar riwayat diri sendiri.
4.       Antologi adalah buku yang berisi kumpulan karya terplih beberapa orang. Contoh Laut Biru Langit Biru karya Ayip Rosyidi
5.       Kisah adalah riwayat perjalanan seseorang yang berarti cerita rentetan kejadian kemudian mendapat perluasan makna sehingga dapat juga berarti cerita. Contoh: Melawat ke Jabar – Adinegoro, Catatan di Sumatera – M. Rajab.
6.       Cerpen adalah suatu karangan prosa yang berisi sebuah peristiwa kehidupan manusia, pelaku, tokoh dalam cerita tersebut. Contoh: Tamasya dengan Perahu Bugis karangan Usman. Corat-coret di Bawah Tanah karangan Idrus.
7.       Novel adalah suatu karangan prosa yang bersifat cerita yang menceritakan suatu kejadian yang luar biasa dan kehidupan orang-orang. Contoh: Roromendut karangan YB. Mangunwijaya.
8.       Kritik adalah karya yang menguraikan pertimbangan baik-buruk  suatu hasil karya dengan memberi alasan-alasan tentang isi dan bentuk dengan kriteria tertentu yangs ifatnya objektif dan menghakimi.
9.       Resensi adalah pembicaraan/pertimbangan/ulasan suatu karya (buku, film, drama, dll.). Isinya bersifat memaparkan agar pembaca mengetahui karya tersebut dari ebrbagai aspek seperti tema, alur, perwatakan, dialog, dll, sering juga disertai dengan penilaian dan saran tentang perlu tidaknya karya tersebut dibaca atau dinikmati.
10.    Esei adalah ulasan/kupasan suatu masalah secara sepintas lalu berdasarkan pandangan pribadi penulisnya. Isinya bisa berupa hikmah hidup, tanggapan, renungan, ataupun komentar tentang budaya, seni, fenomena sosial, politik, pementasan drama, film, dll. menurut selera pribadi penulis sehingga bersifat sangat subjektif  atau sangat pribadi.
B.      Puisi
Puisi adalah bentuk karangan yang terkikat oleh rima, ritma, ataupun jumlah baris serta ditandai oleh bahasa yang padat. Unsur-unsur intrinsik puisi adalah
a.       tema adalah tentang apa puisi itu berbicara
b.       amanat adalah apa yang dinasihatkan kepada pembaca
c.        rima adalah persamaan-persamaan bunyi
d.       ritma adalah perhentian-perhentian/tekanan-tekanan yang teratur
e.       metrum/irama adalah turun naik lagu secara beraturan yang dibentuk oleh persamaan jumlah kata/suku tiap baris
f.         majas/gaya bahasa adalah permainan bahasa untuk efek estetis maupun maksimalisasi ekspresi
g.       kesan adalah perasaan yang diungkapkan lewat puisi (sedih, haru, mencekam, berapi-api, dll.)
h.       diksi adalah pilihan kata/ungkapan
i.         tipografi adalah perwajahan/bentuk puisi
Menurut zamannya, puisi dibedakan atas puisi lama dan puisi baru.
a.       puisi lama
Ciri puisi lama:
1.       merupakan puisi rakyat yang tak dikenal nama pengarangnya
2.       disampaikan lewat mulut ke mulut, jadi merupakan sastra lisan
3.       sangat terikat oleh aturan-aturan seperti jumlah baris tiap bait, jumlah suku kata maupun rima
Yang termausk puisi lama adalah
1.    mantra adalah ucapan-ucapan yangd ianggap memiliki kekuatan gaib
2.    pantun adalah puisi yang bercirikan bersajak a-b-a-b, tiap bait 4 baris, tiap baris terdiri dari 8-12 suku kata, 2 baris awal sebagai sampiran,  2 baris berikutnya sebagai isi. Pembagian pantun menurut isinya terdiri dari pantun anak, muda-mudi, agama/nasihat, teka-teki, jenaka
3.    karmina adalah pantun kilat seperti pantun tetapi pendek
4.    seloka adlah pantun berkait
5.    gurindam adalah puisi yang berdirikan tiap bait 2 baris, bersajak a-a-a-a, berisi nasihat
6.    syair adalah puisi yang bersumber dari Arab dengan ciri tiap bait 4 baris, bersajak a-a-a-a, berisi nasihat atau cerita
7.    talibun adalah pantun genap yang tiap bait terdiri dari 6, 8, ataupun 10 baris
b.       puisi baru
Puisi baru bentuknya lebih bebas daripada puisi lama baik dalam segi jumlah baris, suku kata, maupun rima.Menurut isinya, puisi dibedakan atas
1.       balada adalah puisi berisi kisah/cerita
2.       himne adAlah puisi pujaan untuk Tuhan, tanah air, atau pahlawan
3.       ode adalah puisi sanjungan untuk orang yang ebrjasa
4.       epigram adalah puisi yang berisi tuntunan/ajaran hidup
5.       romance adalah puisi yang berisi luapan perasaan cinta kasih
6.       elegi adalah puisi yang berisi ratap tangis/kesedihan
7.       satire adalah puisi yang berisi sindiran/kritik
Membaca Puisi
Adapun faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam membaca puisi antara lain:
1.       jenis acara: pertunjukkan, pembuka acara resmi, performance-art, dll.,
2.       pencarian jenis puisi yang cocok dengan tema: perenungan, perjuangan, pemberontakan, perdamaian, ketuhanan, percintaan, kasih sayang, dendam, keadilan, kemanusiaan, dll.,
3.       pemahaman puisi yang utuh,
4.       pemilihan bentuk dan gaya baca puisi, meliputi poetry reading, deklamasi, dan teaterikal
5.       tempat acara: indoor atau outdoor,
6.       audien,
7.       kualitas komunikasi,
8.       totalitas performansi: penghayatan, ekspresi( gerak dan mimik)
9.       kualitas vokal, meliputi volume suara, irama (tekanan dinamik, tekanan nada, tekanan tempo)
10.    kesesuaian gerak,
11.    jika menggunakan bentuk dan gaya teaterikal, maka harus memperhatikan:
a)       pemilihan kostum yang tepat,
b)       penggunaan properti yang efektif dan efisien,
c)       setting yang sesuai dan mendukung tema puisi,
d)       musik yang sebagai musik pengiring puisi atau sebagai musikalisasi puisi
C.      Drama/Film
Drama atau film merupakan karya yang terdiri atas aspek sastra dan asepk pementasan. Aspek sastra drama berupa naskah drama, dan aspek sastra film berupa skenario. Unsur instrinsik keduanya terdiri dari tema, amanat/pesan, plot/alur, perwatakan/karakterisasi, konflik, dialog, tata artistik (make up, lighting, busana, properti, tata panggung, aktor, sutradara, busana, tata suara, penonton), casting (penentuan peran), dan akting (peragaan gerak para pemain).

D.      Periodisasi Sastra Indonesia
Periodisasi sastra adalah pembabakan waktu terhadap perkembangan sastra yang ditandai dengan ciri-ciri tertentu. Maksudnya tiap babak waktu (periode) memiliki ciri tertentu yang berbeda dengan periode yang lain.
1.       Zaman Sastra Melayu Lama
Zaman ini melahirkan karya sastra berupa mantra, syair, pantun, hikayat, dongeng, dan bentuk yang lain.
2.       Zaman Peralihan
Zaman ini dikenal tokoh Abdullah bin Abdulkadir Munsyi. Karyanya dianggap bercorak baru karena tidak lagi berisi tentang istana danraja-raja, tetapi tentang kehidupan manusia dan masyarakat yang nyata, misalnya Hikayat Abdullah (otobiografi), Syair Perihal Singapura Dimakan Api, Kisah Pelayaran Abdullah ke Negeri Jedah. Pembaharuan yang ia lakukan tidak hanya dalam segi isi, tetapi juga bahasa. Ia tidak lagi menggunakan bahasa Melayu yang kearab-araban.

3.       Zaman Sastra Indonesia

a.       Angkatan Balai Pustaka (Angkatan 20-an)
Ciri umum angkatan ini adalah tema berkisari tentang konflik adat antara kaum tua dengan kaum muda, kasih tak sampai, dan kawin paksa, bahan ceritanya dari Minangkabau, bahasa yang dipakai adalah bahasa Melayu, bercorak aliran romantik sentimental.
Tokohnya adalah Marah Rusli (roman Siti Nurbaya), Merari Siregar (roman Azab dan Sengsara), Nur Sutan Iskandar (novel Apa dayaku Karena Aku Seorang Perempuan), Hamka (roman Di Bawah Lindungan Ka’bah), Tulis Sutan Sati (novel Sengsara Membawa Nikmat), Hamidah (novel Kehilangan Mestika), Abdul Muis (roman Salah Asuhan), M Kasim (kumpulan cerpen Teman Duduk)

b.       Angkatan Pujangga Baru (Angkatan 30-an)
Cirinya adalah 1) bahasa yang dipakai adalah bahasa Indonesia modern, 2) temanya tidak hanya tentang adat atau kawin paksa, tetapi mencakup masalah yang kompleks, seperti emansipasi wanita, kehidupan kaum intelek, dan sebagainya, 3) bentuk puisinya adalah puisi bebas, mementingkan keindahan bahasa, dan mulai digemari bentuk baru yang disebut soneta, yaitu puisi dari Italia yang terdiri dari 14 baris, 4) pengaruh barat terasa sekali, terutama dari Angkatan ’80 Belanda, 5)aliran yang dianut adalah romantik idealisme, dan  6) setting yang menonjol adalah masyarakat penjajahan.
Tokohnya adalah STA Syhabana (novel Layar Terkembang, roman Dian Tak Kunjung Padam), Amir Hamzah (kumpulan puisi Nyanyi Sunyi, Buah Rindu, Setanggi Timur), Armin Pane (novel Belenggu), Sanusi Pane (drama Manusia Baru), M. Yamin (drama Ken Arok dan Ken Dedes), Rustam Efendi (drama Bebasari), Y.E. Tatengkeng (kumpulan puisi Rindu Dendam), Hamka (roman Tenggelamnya Kapa nVan Der Wijck).

c.        Angkatan ’45
Ciri umumnya adalah bentuk prosa maupun puisinya lebih bebas, prosanya bercorak realisme, puisinya bercorak ekspresionisme, tema dan setting yang menonjol adalah revolusi, lebih mementingkan isi daripada keindahan bahasa, dan jarang menghasilkan roman seperti angkatan sebelumnya.
Tokohnya Chairil Anwar (kumpulan puisi Deru Capur Debu, kumpulan puisi bersama Rivai Apin dan Asrul Sani Tiga Menguak Takdir), Achdiat Kartamiharja (novel Atheis), Idrus (novel Surabaya, Aki), Mochtar Lubis (kumpulan drama Sedih dan Gembira), Pramduya Ananta Toer (novel Keluarga Gerilya), Utuy Tatang Sontani (novel sejarah Tambera)

d.       Angkatan ’66
Ciri umumnya adalah tema yang menonjol adalah protes sosial dan politik, menggunakan kalimat-kalimat panjang mendekati bentuk prosa.
Tokohnya adalah W.S. Rendra (kumpulan puisi Blues untuk Bnie, kumpulan puisi Ballada Orang-Orang Tercinta), Taufiq Ismail (kumpulan puisi Tirani, kumpulan puisi Benteng), N.H. Dini (novel Pada Sebuah Kapal), A.A. Navis (novel Kemarau), Toha Mohtar (novel Pulang), Mangunwijaya (novel Burung-burung Manyar), Iwan Simatupang (novel Ziarah), Mochtar Lubis (novel Harimau-Harimau), Mariannge Katoppo (novel Raumannen).


E.       Identifikasi Moral, Estetika, Sosial, Budaya Karya Sastra
1.       Identifikasi Moral
Sebuah karya umumnya membawa pesan moral. Pesan moral dapat disampaikan oleh pengarang secara                langsung maupun tidak langsung. Dalam karya satra, pesan moral dapat diketahui dari perilaku tokoh-         tokohnya atau komentar langsung pengarangnya lewat karya itu.
2.       Identifikasi Estetika atau Nilai Keindahan
Sebuah karya sastra mempunyai aspek-aspek keindahan yang melekat pada karya sastra itu. Sebuah puisi,             misalnya: dapat diamati aspek persamaan bunyi, pilihan kata, dan lain-lain. Dalam cerpen dapat diamati pilihan gaya bahasanya.
3.       Identifikasi Sosial Budaya
Suatu karya sastra akan mencerminkan aspek sosial budaya suatu daerah tertentu. Hal ini berkaitan dengan warna daerah. Sebuah novel misalnya, warna daerah memiliki corak tersendiri yang membedakannya dengan yang lain. Beberapa karya sastra yang mengungkapkan aspek sosial budaya:
a.       Pembayaran karya Sunansari Ecip mengungkapkan kehidupan di Sulawesi Selatan.
b.       Bako Karya Darman Moenir mengungkapkan kehidupan Suku Minangkabau di Sumatera Barat.