Photobucket
English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Tampilkan postingan dengan label INDONESIAN POWER. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label INDONESIAN POWER. Tampilkan semua postingan

government where your heart?

Disaat aku sedang duduk disebuah taman dan sedikit berpikir tentang kehidupan di negeri ku ini yang bernama indonesia...
entah aku selalu tercengang dengan semua problematika kehidupan yang terjadi di negeri yang kata orang sangat kaya akan sumber daya ini.
hari ini dan hari - hari sebelumnya tersiar selalu kegunjringan akan kenaikan bahan bakar minyak..
entah apa yang mereka pikirkan ( pemerintah )..
yaa.. alibi mereka adalah untuk  stabilitasi ekonomi dan ekonomi...
sangat miris memang di negeri yang kaya akan sumber daya alam harus tercekik rakyatnya sendiri oleh semua masalah yang tak mereka tahu dari mana asal akar masalah ini.

sayup-sayup terdengar.. lagu iwan fall's
"BBM naik tinggi .. susu tak terbeli.. anak kami kurang gizi"

sungguh kebijakan yang harus mengorbankan penderitaan rakyat..
yang memang semakin tercekik dengan keadaan stabilitas ekonomi dan krisis identitas..
yaa... bagai di cekik di tiang gantungan.




hal yang terkonyol yang pernah aku dengar adalah ::
untuk menanggulanginya pemerintah akan memberikan BLT ???
apa??? BLT ( bantuan langsung tunai )
pemerintah seperti apa yang mengajarkan kepada rakyatnya untuk belajar di suapi...
ini akan berdampak pada kejiwaan setiap rakyat indonesia..
mereka pikir dengan bantuan seperti itu rakyat miskin akan senang dan lepas dari penderitaannya..

SHIT... hal terbodoh dalam pemikiran sebuah pemerintahan di negeri yang kaya akan sumber daya alam.

yang pasti... di negeri ini masih banyak manusia yang miskin rasa nasionalisme nya hingga tega mengorbankan rakyatnya dengan melakukan korupsi dan bla...blaa...blaaaa. miris benar bangsa ini.

dan sang pemimpin hanya bisa melagukan setuju tanpa mengerti arti sebuah penderitaan di kala harga kebutuhan semua serba naik..

COBALAH MENGERTI AKAN KONDISI BANGSA YANG BESAR INI
SEBAGAI GENERASI MUDA LIHATLAH JERITAN ORANG MISKIN DAN ORANG YANG TERPINGGIRKAN...

DAN PEMERINTAH COBALAH DEWASA BIARLAH SUMBERDDAYA ALAM INDONESIA DI GUNAKAN OLEH RAKYAT KEPADA RAKYAT DAN UTUK RAKYAT>!!!

KEMBALILAH PADA IDEOLOGI PANCASILA BUKAN IDEOLOGI ASPAL PRODUK SEJENIS SEPERTI DEMOCRAZY.... LIBERALISME.

jangan tunggu rakyat miskin marah dan memporak porandakan ALAM RAYA INDONESIA
PEMIMPIN YANG BAIK ADALAH PEMIMPIN YANG PAHAM AKAN ARTI SEBUAH PERSATUAN DAN KESATUAN"   SEIG HEIL

created by : nossha

Sejarah sastra Indonesia

Salah satu alasan dikemukakan oleh mereka yang menuduh ada krisis sastra adalah kurangnya jumlah buku yang terbit. Roman-roman karangan Pramoedya Ananta Toer di tahun 1950-1953 yang selalu muncul dengan judul baru dan tebal-tebal itu karangannya pada tahun sebelum 1950 di dalam penjara. (Dikemukakan oleh para penuduh)
Sejak tahun 1953, Balai Pustaka (penerbit utama buku buku-buku sastra) kedudukannya tidak menentu. Penerbit yang bernaung di bawah PP dan K itu berkali-kali mengalami perubahan status, ditambah penempatan pimpinan pada yang bukan ahli, juga tidak mencukupinya faktor anggaran produksinya.
Juga penerbit pustaka rakyat yang menjadi penerbit nasional juga mengalami kesukaran. Begitu juga penerbit lain seperti Pembangunan, Tinta Mas, dan lain-lain. Dengan itu maka aktivitas sastra hanya dalam majalah-majalah saja seperti Gelanggang/Siasat, Mimbar Indonesia, Zenith, Pudjangga Baru, dan lain-lain. Karena sifatnya majalah maka yang dimuat juga pendek-pendek hanya berupa sajak, cerpen, sesuai yang dibutuhkan majalah.
Keadaan itu yang menyebabkan lahirnya istilah “Sastra Majalah.” istilah ini pertama kali dilansir oleh Nugroho Notosusanto dalam tulisannya “situasi 1954” dimuat dalam majalah Kompas yang dipimpinnya.
Pada masa itu juga ramai dipersoalkan bahwa ada angkatan baru sesudah angkatan Chairil Anwar (45). Pada simposium sastra yang bergelar oleh Fakultas Sastra UI tahun 1955, juga pada simposium-simposium di Solo, Yogyakarta dan kota-kota lain ada kecenderungan pemikiran yang beranggapan telah lahir angkatan baru sesudah angkatan Chairil Anwar yang tidak tepat lagi digolongkan dengan angkatan sebelumnya (45).
Dalam simposium sastra yang diselenggarakan di Jakarta tahun 1960, dicoba untuk mencari ciri yang membedakan angkatan baru dengan angkatan ’45. Angkatan terbaru mempunyai budaya sikap menggabungkan dua sikap mengenai konsepsi kebudayaan Indonesia, yaitu :
1) Sikap yang berpendapat bahwa kebudayaan nasional Indonesia itu merupakan persatuan dari puncak-puncak kebudayaan daerah.
2) Sikap yang berpendapat bahwa kebudayaan Indonesia ialah mendunia dan mempersatukan kebudayaan daerah.
Maka sikap sintesisnya : Kebudayaan Nasional Indonesia akan berkembang berdasarkan kenyataan-kenyataan dalam masyrakat Indonesia masa kini, yaitu adanya kebudayaan daerah dan adanya pengaruh dari luar.
Pada tahun 1963, di Fakultas Sastra UI diadakan seminar kesusastraan yang ditokohi oleh Nugroho Notosusanto yang ceramah berjudul “Soal Periodesasi dalam Sastra Indonesia” mengemukakan bahwa memang ada periode baru sesudah ‘50 tahun yang tidak bisa lagi dimasukkan ke dalam periode sebelumnya. Pada periode 1950, para pengarang yang aktif mulai menulis ialah mereka yang telah mempunyai “sebuah tradisi Indonesia sebagai titik Tolak.”
Termasuk kepada pengarang dari periode ini, diantaranya :
- Nugroho Notosusanto (1930)
- M. Hussyin Umar (1931)
- Toto S. Bachtiar (1929)
- W. S. Hendra (1935)
- Nh. Dini (1936)
- Subagio Sastrowardojo (1924)
- Trisnoyuwono (1926)
- S. M. Ardan (1932)
- Rijono Pratikto (1934)
- A. A. Navis (1924)
- Sukanto S. A. (1930)
- Iwan Simatupang (1928)
- Matinggo Boesje (1936)
- Taufiq Ismail (1937)
- Kirdjomuljo (1930)
- Alex A’Xandre Leo (1934)
- Ali Audah (1924)
- M. Saribi Afni (1938)
- Surachman R. M. (1936)
- Ramadhan K. H. (1927)
- Jusach Ananda (1930)
- Amyus N. n (1926-1968)
- Terbit Sembiring (1934)
- Widia Lusia Zulia
- Basuki Goenawan
- Dan lain-lain


NUGROHO NOTOSUSANTO

Nugroho Notosusanto adalah seorang sarjana ilmu sejarah. Ia dilahirkan di Rembang, 15 Juli 1930. Nugroho Notosusanto terkenal sebagai penulis prosa, terutama pengarang cerpen. Tetapi sesungguhnya ia pertama-tama menulis sajak-sajak yang sebagian besar diantaranya dimuat dalam majalah yang dipimpinnya, “KOMPAS”. Tidak mendapat kepuasan dalam menulis sajak, ia lalu mengkhususkan diri sebagai pengarang prosa, terutama cerpen dan esai.
Sampai sekarang ia telah menerbitkan tiga buah kumpulan cerpen.
1. Hujan Kepagian (1958)
Memuat tentang perjuangan kemerdekaaan nasional yang dilakukan oleh pemuda dan pelajar.
2. Tiga Kota (1959)
Memuat cerpen yang ditulis karena inspirasi dari tiga kota, diantaranya: Rembang, Yogyakarta, Jakarta yang dimana kota tersebut merupakan setting tempat yang mempunyai makna.
3. Rasa Sajange (1963)
Yang antara lain memuat cerpennya yang paling berhasil yang berjudul “Jembatan”.
Setelah menerbitkan ketiga buku itu, Nugroho lebih mencurahkan perhatiannya kepada penulisan-penulisan ilmiah dan sejarah, ia menjadi kepala pusat sejarah angkatan bersenjata. Dan sejak 1968 ia diangkat menjadi Kolonel Tituler. Kemudian brigadir jenderal diantaranya para pengarang semasanya, Nugroho dikenal sebagai penulis esai. Ketika para pengarang lain hanya menulis cerpen dan sajak, Nugroholah salah seorang diantara yang muda-muda ketika itu yang banyak menulis esai yang mencoba menyelami situasi zamannya. Terutama tentang sastra dan kebudayaan. Ia merupakan salah seorang pengambil inisiatif untuk mengadakan simposium sastra Fakultas Sastra Universitas Indonesia Jakarta tahun 1953 yang kemudian dijadikan tradisi tahunan sampai dengan tahun 1958. ia sendiri pada simposium tahun 1957 menjadi salah seorang pemrasaran yang mengemukakan prasaran tentang cerita pendek.


SASTRA DAN POLITIK

 Merupakan suatu kenyataan sejarah, bahwa sejak awal pertumbuhanya sastrawan-sastrawan Indonesia menunjukan perhatian yang serius kepada politik. Para pengarang zaman sebelum perang, banyak yang aktif dalam kegiatan-kegiatan kebangsaan pada masa itu. Bahkan, ada diantaranva yang kemudian lebih terkenal sebagai politikus dari pada pengarang, seperti Moh. Yamin dan Rostam Efendi. Demikian juga para pengarang pujangga baru ialah orang- orang yang aktif dalam dunia pergerakan nasional.
 Pada awal tahun lima puluh, terjadi polemik yang seru juga antara orang-orang yang membela hak hidup angkatan ’45 dengan orang-orang yang mengatakan ”Angkatan ’45 sudah mampus” yang berpangkal pada sikap politik. Pihak yang berpaham realisme sosialis, yaitu paham yang menjadi filsafat-seni kaum komunitas, aktif mengadakan polemik. Penganut paham realisme sosialis yang paling keras teriaknya ialah A.S Dharta yang sering juga mengunakan nama samaran Yoga Swara, Klara Akustia, dan lain-lain. Dipihak lain berdiri H.B. Jassin dan kawan- kawannya. Sementara itu polemik semacam itu terdiri pulau di Medan, antara Bakri Siregar yang menganut paham realisme sosialis di suatu pihak dengan Aoh K. Hadimaja (yang ketika itu di Medan) pada pihak yang lain. Sekitar tahun 1953 terjadi pula polemik semacam itu antara Joebar Ajoeb yang menganut paham realisme sosialis dengan Harijadi S. Hartowardojo di pihak yang lain, dalam ruang gelangan siasat.
 Dan peristiwa- peristiwa itu tampak bahwa polemik semacam itu senantiasa terjadi antara orang-orang yang berpaham realisme-sosialis dengan orang-orang dari lingkungan gelanggang seniman merdeka. Pada tahun 1950 berdirilah di Jakarta lembaga kebudayaan rakyat yang kemudian lebih terkenal Lekra. Sebagai sekertaris jendralnya yang pertama bertindak A.S. Dharta. Rupanya pada mulanya Lekra ini belum lagi merupakan orang kebudayaan dalam PKI.
 Tahun 1959, Soekarno yang ketika itu menjadi Presiden, mendekritkan Undang-Undang Dasar 1945 berlaku lagi dan menganjurkan ’Manifesto Poiitik’ (yang kemudian menjadi terkenal dengan singkatan Manipol) sebagai dasar haluan negara Manipol memberikan ruang gerak kepada PKI untuk sedikit demi sedikit merebut tempat-tempat dan posisi-posisi penting buat merebut kekuasaan. Apalagi ketika kemudian ajaran NASAKOM (Nasionalis, Agama, dan Komunis) dijadikan pola perbandingan kekuatan dalam lembaga-lembaga resmi dan tidak resmi, PKI kian mendapat angin.
 Dalam lapangan sastra satu demi satu pengarang yang mempunyai paham berbeda dengan mereka dihantam dan dimusnahkan. Suatu takdir Alisjabana yang polaitis menjadi anggota partai yang dibubarkan (PSI) dan Hamka (Masjumi) menjadi sasarannya. Buku-buku mereka dituntut supaya dilarang dipergunakan, baik di sekolah-sekolah maupun di masyarakat. Metode yang sama kemudian mereka gunakan juga ketika menghantam para pengarang penanda tanganan Manifes Kebudayaan. Pengarang-pengarang, seniman-seniman, dan budayawan diteror untuk bergabung kepada Lekra atau hancur ditumpasnya. Mereka mempraktekkan teori untuk membagi orang menjadi kawan atau menjadi lawan.
 Teror intensif yang mereka lakukan itu, telah menyebabkan banyak budayawan seniman dan pengarang, lalu menggabungkan diri kepada Lekra karena para seniman itu agaknya berpendapat kalau tidak begitu, mereka tidak akan selamat. Sebagian lagi yang tetap memegang prinsip menolak komunisme, lalu menggabungkan diri kepada organisasi-organisasi kebudayaan yang bernaung pada partai-partai NASAKOM yang ada pada masa itu. Tahun 1959 PNI membentuk LKN (Lembaga Kebudayaan Nasional) yang untuk pertama kali diketahui oleh Sitor Situmorang. NU membentuk LESBUMI (Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia) dengan ketua Ismar ismail, Asrul Sani, dan lain-lain. begitu pula dengan Partai Kristen Indonesia (Parkindo), Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII), Partai Indonesia (Partindo), dan lain-lain.
 Dengan berbagai akal dan cara para budayawan, seniman dan pengarang Indonesia dipaksa untuk masuk salah satu kandang, kalau tidak, mereka akan menjadi bulan-bulanan orang-orang Lekra dan PKI. Organisasi-organisasi mahasiswa dan pelajar yang hendak berdiri sendiri (independen), terus-terusan diteror dan difitnahnya, seperti terjadi dengan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan Pelajar Islam Indonesia (PII) .


DAFTAR PUSTAKA

Ajib Rosidi. 1986. Ikhtiar Sejarah Sastra Indonesia: Sastra Majalah, Nugroho Notosusanto, Sastra dan Politik. Bandung: Percetakan Bina Cipta.

Sumber google.

Sejarah Merah Putih

Menurut sejarah, Bangsa Indonesia memasuki wilayah Nusantara ketika terjadi perpindahan orang-orang Austronesia sekitar 6000 tahun yang lalu datang ke Indonesia Timur dan Barat melalui tanah Semenanjung dan Philipina. Pada zaman itu manusia memiliki cara penghormatan atau pemujaan terhadap matahari dan bulan. Matahari dianggap sebagai lambang warna merah dan bulan sebagai lambang warna putih. Zaman itu disebut juga zaman Aditya Candra. Aditya berarti matahari dan Candra berarti bulan. Penghormatan dan pemujaan tidak saja di kawasan Nusantara, namun juga di seluruh Kepulauan Austronesia, di Samudra Hindia, dan Pasifik.

Sekitar 4000 tahun yang lalu terjadi perpindahan kedua, yaitu masuknya orang Indonesia kuno dari Asia Tenggara dan kemudian berbaur dengan pendatang yang terlebih dahulu masuk ke Nusantara. Perpaduan dan pembauran inilah yang kemudian melahirkan turunan yang sekarang kita kenal sebagai Bangsa Indonesia.
Pada Zaman itu ada kepercayaan yang memuliakan zat hidup atau zat kesaktian bagi setiap makhluk hidup yaitu getah-getih. Getah-getih yang menjiwai segala apa yang hidup sebagai sumbernya berwarna merah dan putih. Getah tumbuh-tumbuhan berwarna putih dan getih (dalam Bahasa Jawa/Sunda) berarti darah berwarna merah, yaitu zat yang memberikan hidup bagi tumbuh-tumbuhan, manusia, dan hewan. Demikian kepercayaan yang terdapat di Kepulauan Austronesia dan Asia Tenggara.
2. Pada permulaan masehi selama 2 abad, rakyat di Kepulauan Nusantara mempunyai kepandaian membuat ukiran dan pahatan dari kayu, batu, dan lainnya, yang kemudian ditambah dengan kepandaian mendapat pengaruh dari kebudayaan Dong Song dalam membuat alat-alat dari logam terutama dari perunggu dan besi. Salah satu hasil yang terkenal ialah pembuatan gendering besar dari perunggu yang disebut nekara dan tersebar hampir di seluruh Nusantara. Di Pulau Bali gendering ini disebut Nekara Bulan Pajeng yang disimpan dalam pura. Pada nekara tersebut diantaranya terdapat lukisan orang menari dengan hiasan bendera dan umbul-umbul dari bulu burung. Demikian juga di Gunung Kidul sebelah selatan Yogyakarta terdapat kuburan berupa waruga dengan lukisan bendera merah putih berkibar di belakang seorang perwira menunggang kerbau, seperti yang terdapat di kaki Gunung Dompu.
Sejak kapan bangsa-bangsa di dunia mulai memakai bendera sebagai identitas bangsanya? Berdasarkan catatan sejarah dapat dikemukakan bahwa awal mula orang menggunakan bendera dimulai dengan memakai lencana atau emblem, kemudian berkembang menjadi tanda untuk kelompok atau satuan dalam bentuk kulit atau kain yang dapat berkibar dan mudah dilihat dari jauh. Berdasarkan penelitian akan hasil-hasil benda kuno ada petunjuk bahwa Bangsa Mesir telah menggunakan bendera pada kapal-kapalnya, yaitu sebagai batas dari satu wilayah yang telah dikuasainya dan dicatat dalam daftar. Demikian juga Bangsa Cina di zaman kaisar Chou tahun 1122 sebelum masehi.
Bendera itu terikat pada tongkat dan bagian puncaknya terdapat ukiran atau totem, di bawah totem inilah diikatkan sepotong kain yang merupakan dekorasi. Bentuk semacam itu didapati pada kebudayaan kuno yang terdapat di sekitar Laut Tengah. Hal itu diperkuat juga dengan adanya istilah bendera yang terdapat dalam kitab Injil. Bendera bagi raja tampak sangat jelas, sebab pada puncak tiang terdapat sebuah symbol dari kekuasaan dan penguasaan suatu wilayah taklukannya. Ukiran totem yang terdapat pada puncak atau tiang mempunyai arti magis yang ada hubungnnya dengan dewa-dewa. Sifat pokok bendera terbawa hingga sekarang ini.
Pada abad XIX tentara napoleon I dan II juga menggunakan bendera dengan memakai lambang garuda di puncak tiang. Perlu diingat bahwa tidak semua bendera mempunyai arti dan ada hubungannya dengan religi. Bangsa Punisia dan Yunani menggunakan bendera sangat sederhana yaitu untuk kepentingan perang atau menunjukkan kehadiran raja atau opsir, dan juga pejabat tinggi negara. Bendera Yunani umumnya terdiri dari sebuah tiang dengan kayu salib atau lintang yang pada puncaknya terdapat bulatan. Dikenal juga perkataan vaxillum (kain segi empat yang pinggirnya berwarna ungu, merah, atau biru) digantung pada kayu silang di atas tombak atau lembing.
Ada lagi yang dinamakan labarum yang merupakan kain sutra bersulam benang emas dan biasanya khusus dipakai untuk Raja Bangsa Inggris menggunakan bendera sejak abad VIII. Sampai abad pertengahan terdapat bendera yang menarik perhatian yaitu bendera “gunfano” yang dipakai Bangsa Germania, terdiri dari kain bergambar lencana pada ujung tombak, dan dari sinilah lahir bendera Prancis yang bernama “fonfano”.
Bangsa Viking hampir sama dengan itu, tetapi bergambar naga atau burung, dikibarkan sebagai tanda menang atau kalah dalam suatu pertempuran yang sedang berlangsung. Mengenai lambang-lambang yang menyertai bendera banyak juga corak ragamnya, seperti Bangsa Rumania pernah memakai lambang burung dari logam, dan Jerman kemudian memakai lambang burung garuda, sementara Jerman memakai bendera yang bersulam gambar ular naga.

Tata cara pengibaran dan pemasangan bendera setengah tiang sebagai tanda berkabung, kibaran bendera putih sebagai tanda menyerah (dalam peperangan) dan sebagai tanda damai rupanya pada saat itu sudah dikenal dan etika ini sampai sekarang masih digunakan oleh beberapa Negara di dunia.
3. Pada abad VII di Nusantara ini terdapat beberapa kerajaan. Di Jawa, Sumatra, Kalimantan, dan pulau-pulau lainnya yang pada hakikatnya baru merupakan kerajaan dengan kekuasaan terbatas, satu sama lainnya belum mempunyai kesatuan wilayah. Baru pada abad VIII terdapat kerajaan yang wilayahnya meliputi seluruh Jawa yaitu Kerajaan Mataram Kuno yang berlangsung sampai abad XII. Salah satu peninggalannya adalah Candi Borobudur , dibangun pada tahun 824 Masehi dan pada salah satu dindingnya terdapat “pataka” di atas lukisan dengan tiga orang pengawal membawa bendera merah putih sedang berkibar. Kata dwaja atau pataka sangat lazim digunakan dalam kitab jawa kuno atau kitab Ramayana. Gambar pataka yang terdapat pada Candi Borobudur, oleh seorang pelukis berkebangsaan Jerman dilukiskan dengan warna merah putih. Pada Candi Prambanan di Jawa Tengah juga terdapat lukisan Hanoman terbakar ekornya yang melambangkan warna merah (api) dan warna putih pada bulu badannya. Hanoman = kera berbulu putih. Hal tersebut sebagai peninggalan sejarah di abad X yang telah mengenal warna merah dan putih.
Prabu Erlangga, digambarkan sedang mengendarai burung besar, yaitu Burung Garuda yang juga dikenal sebagau burung merah putih. Denikian juga pada tahun 898 sampai 910 Raja Balitung yang berkuasa untuk pertama kalinya menyebut dirinya sebagai gelar Garuda Muka, maka sejak masa itu warna merah putih maupun lambang Garuda telah mendapat tempat di hati Rakyat Indonesia.

4. Kerajaan Singosari berdiri pada tahun 1222 sampai 1292 setelah Kerajaan Kediri, mengalami kemunduran. Raja Jayakatwang dari Kediri saat melakukan pemberontakan melawan Kerajaan Singosari di bawah tampuk kekuasaan Raja Kertanegara sudah menggunakan bendera merah – putih , tepatnya sekitar tahun 1292. Pada saat itu tentara Singosari sedang dikirim ke Semenanjung Melayu atau Pamelayu. Jayakatwang mengatur siasat mengirimkan tentaranya dengan mengibarkan panji – panji berwarna merah putih dan gamelan kearah selatan Gunung Kawi. Pasukan inilah yang kemudian berhadapan dengan Pasukan Singosari, padahal pasukan Singosari yang terbaik dipusatkan untuk menghadang musuh di sekitar Gunung Penanggungan. Kejadian tersebut ditulis dalam suatu piagam yang lebih dikenal dengan nama Piagam Butak. Butak adalah nama gunung tempat ditemukannya piagam tersebut terletak di sebelah selatan Kota Mojokerto. Pasukan Singosari dipimpin oleh R. Wijaya dan Ardaraja (anak Jayakatwang dan menantu Kertanegara). R. Wijaya memperoleh hadiah sebidang tanah di Desa Tarik, 12 km sebelah timur Mojokerto. Berkibarlah warna merah – putih sebagai bendera pada tahun 1292 dalam Piagam Butak yang kemudian dikenal dengan piagam merah – putih, namun masih terdapat salinannya. Pada buku Paraton ditulis tentang Runtuhnya Singosari serta mulai dibukanya Kerajaan Majapahit dan pada zaman itu pula terjadinya perpaduan antara Ciwaisme dengan Budhisme.
5. Demikian perkembangan selanjutnya pada masa kejayaan Kerajaan Majapahit, menunjukkan bahwa putri Dara Jingga dan Dara Perak yang dibawa oleh tentara Pamelayu juga mangandung unsur warna merah dan putih (jingga=merah, dan perak=putih). Tempat raja Hayam Wuruk bersemayam, pada waktu itu keratonnya juga disebut sebagai keraton merah – putih, sebab tembok yang melingkari kerajaan itu terdiri dari batu bata merah dan lantainya diplester warna putih. Empu Prapanca pengarang buku Negarakertagama menceritakan tentang digunakannya warna merah – putih pada upacara kebesaran Raja Hayam Wuruk. Kereta pembesar – pembesar yang menghadiri pesta, banyak dihiasi merah – putih, seperti yang dikendarai oleh Putri raja Lasem. Kereta putri Daha digambari buah maja warna merah dengan dasar putih, maka dapat disimpulkan bahwa zaman Majapahit warna merah – putih sudah merupakan warna yang dianggap mulia dan diagungkan. Salah satu peninggalan Majapahit adalah cincin warna merah putih yang menurut ceritanya sabagai penghubung antara Majapahit dengan Mataram sebagai kelanjutan. Dalam Keraton Solo terdapat panji – panji peninggalan Kyai Ageng Tarub turunan Raja Brawijaya yaitu Raja Majapahit terakhir. Panji – panji tersebut berdasar kain putih dan bertuliskan arab jawa yang digaris atasnya warna merah. Hasil penelitian panitia kepujanggaan Yogyakarta berkesimpulan antara lain nama bendera itu adalah Gula Kelapa . dilihat dari warna merah dan putih. Gula warna merah artinya berani, dan kelapa warna putih artinya suci.
6. Di Sumatra Barat menurut sebuah tambo yang telah turun temurun hingga sekarang ini masih sering dikibarkan bendera dengan tiga warna, yaitu hitam mewakili golongan penghulu atau penjaga adat, kuning mewakili golongan alim ulama, sedangkan merah mewakili golongan hulu baling. Ketiga warna itu sebenarnya merupakan peninggalan Kerajaan Minang pada abad XIV yaitu Raja Adityawarman. Juga di Sulawesi di daerah Bone dan Sopeng dahulu dikenal Woromporang yang berwarna putih disertai dua umbul – umbul di kiri dan kanannya. Bendera tersebut tidak hanya berkibar di daratan, tetapi juga di samudera , di atas tiang armada Bugis yang terkenal. Bagi masyarakat Batak terdapat kebudayaan memakai ulos semacam kain yang khusus ditenun dengan motif tersendiri. Nenek moyang orang Batak menganggap ulos sebgai lambang yang akan mendatangkan kesejahteraan jasmani dan rohani serta membawa arti khusus bagi yang menggunakannya. Dalam aliran animisme Batak dikenal dengan kepercayaan monotheisme yang bersifat primitive, bahwa kosmos merupakan kesatuan tritunggal, yaitu benua atas dilambangkan dengan warna merah dan benua bawah dilambangkan dengan warna hitam. Warna warna ketiga itu banyak kita jumpai pada barang-barang yang suci atau pada hiasan-hiasan rumah adat. Demikian pula pada ulos terdapat warna dasar yang tiga tadi yaitu hitam sebagai warna dasar sedangkan merah dan putihnya sebagai motif atau hiasannya. Di beberapa daerah di Nusantara ini terdapat kebiasaan yang hampir sama yaitu kebiasaan memakai selendang sebagai pelengkap pakaian kaum wanita. Ada kalanya pemakaian selendang itu ditentukan pemakaiannya pada setiap ada upacara – upacara, dan sebagian besar dari moti-motifnya berwarna merah dan putih.
7. Ketika terjadi perang Diponegoro pada tahun 1825-1830 di tengah – tengah pasukan Diponegoro yang beribu – ribu juga terlihat kibaran bendera merah – putih, demikian juga di lereng – lereng gunung dan desa – desa yang dikuasai Pangeran Diponegoro banyak terlihat kibaran bendera merah – putih. Ibarat gelombang samudera yang tak kunjung reda perjuangan Rakyat Indonesia sejak zaman Sriwijaya, Majapahit, putra – putra Indonesia yang dipimpin Sultan Agung dari Mataram, Sultan Ageng Tirtayasa dari Banten, Sultan Hasanudin, Sisingamangaraja, Tuanku Imam Bonjol, Teuku Umar, Pangeran Antasari, Pattimura, Diponegoro dan banyak lagi putra Indonesia yang berjuang untuk mempertahankan kedaulatan bangsa, sekalipun pihak penjajah dan kekuatan asing lainnya berusaha menindasnya, namun semangat kebangsaan tidak terpadamkan.
Pada abad XX perjuangan Bangsa Indonesia makin terarah dan menyadari akan adanya persatuan dan kesatuan perjuangan menentang kekuatan asing, kesadaran berbangsa dan bernegara mulai menyatu dengan timbulnya gerakan kebangsaan Budi Utomo pada 1908 sebagai salah satu tonggak sejarah.
Kemudian pada tahun 1922 di Yogyakarta berdiri sebuah perguruan nasional Taman Siswa dibawah pimpinan Suwardi Suryaningrat. Perguruan itu telah mengibarkan bendera merah putih dengan latar dasar warna hijau yang tercantum dalam salah satu lagu antara lain : Dari Barat Sampai ke Timur, Pulau-pulau Indonesia, Nama Kamu Sangatlah Mashur Dilingkungi Merah-putih. Itulah makna bendera yang dikibarkan Perguruan Taman Siswa.
Ketika terjadi perang di Aceh, pejuang – pejuang Aceh telah menggunakan bendera perang berupa umbul-umbul dengan warna merah dan putih, di bagian belakang diaplikasikan gambar pedang, bulan sabit, matahari, dan bintang serta beberapa ayat suci Al Quran.
Para mahasiswa yang tergabung dalam Perhimpunan Indonesia yang berada di Negeri Belanda pada 1922 juga telah mengibarkan bendera merah – putih yang di tengahnya bergambar kepala kerbau, pada kulit buku yang berjudul Indonesia Merdeka. Buku ini membawa pengaruh bangkitnya semangat kebangsaan untuk mencapai Indonesia Merdeka.
Demikian seterusnya pada tahun 1927 berdiri Partai Nasional Indonesia dibawah pimpinan Ir. Soekarno yang bertujuan mencapai kemerdekaan bagi Bangsa Indonesia. Partai tersebut mengibarkan bendera merah putih yang di tengahnya bergambar banteng.
Kongres Pemuda pada tahun 1928 merupakan detik yang sangat bersejarah dengan lahirnya “Sumpah Pemuda”. Satu keputusan sejarah yang sangat berani dan tepat, karena kekuatan penjajah pada waktu itu selalu menindas segala kegiatan yang bersifat kebangsaan. Sumpah Pemuda tersebut adalah tidak lain merupakan tekad untuk bersatu, karena persatuan Indonesia merupakan pendorong ke arah tercapainya kemerdekaan. Semangat persatuan tergambar jelas dalam “Poetoesan Congres Pemoeda – Pemoeda Indonesia” yang berbunyi :
Pertama : KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGAKOE
BERTOEMPAH DARAH YANG SATOE, TANAH AIR INDONESIA
Kedua : KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGAKOE
BERBANGSA YANG SATOE, BANGSA INDONESIA
Ketiga : KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA
MENDJOENDJOENG BAHASA PERSATOEAN, BAHASA
INDONESIA
Pada kongres tersebut untuk pertama kalinya digunakan hiasan merah – putih tanpa gambar atau tulisan, sebagai warna bendera kebangsaan dan untuk pertama kalinya pula diperdengarkan lagu kebangsaan Indonesia Raya.
Pada saat kongres pemuda berlangsung, suasana merah – putih telah berkibar di dada peserta, yang dibuktikan dengan panitia kongres mengenakan “kokarde” (semacam tanda panitia) dengan warna merah putih yang dipasang di dada kiri. Demikian juga pada anggota padvinder atau pandu yang ikut aktif dalam kongres menggunakan dasi berwarna merah – putih. Kegiatan pandu, suatu organisasi kepanduan yang bersifat nasional dan menunjukkan identitas kebangsaan dengan menggunakan dasi dan bendera merah – putih.
Perlu disadari bahwa Polisi Belanda (PID) termasuk Van der Plass tokohnya sangat ketat memperhatikan gerak – gerik peserta kongres, sehingga panitia sangat berhati-hati serta membatasi diri demi kelangsungan kongres. Suasana merah putih yang dibuat para pandu menyebabkan pemerintah penjajah melarang dilangsungkannya pawai pandu, khawatir pawai bisa berubah menjadi semacam penggalangan kekuatan massa.
Pengibaran Bendera Merah-putih dan lagu kebangsaan Indonesia Raya dilarang pada masa pendudukan Jepang, karena ia mengetahui pasti bahwa hal tersebut dapat membangkitkan semangat kebangsaan yang nantinya menuju pada kemerdekaan. Kemudian pada tahun 1944 lagu Indonesia Raya dan Bendera Merah-putih diizinkan untuk berkibar lagi setelah kedudukan Jepang terdesak. Bahkan pada waktu itu pula dibentuk panitia yang bertugas menyelidiki lagu kebangsaan serta arti dan ukuran bendera merah-putih.
Detik-detik yang sangat bersejarah adalah lahirnya Negara Kesatuan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945. Setelah pembacaan teks proklamasi, baru dikibarkan bendera merah-putih, yang kemudian disahkan pada 18 Agustus 1945. Bendera yang dikibarkan tersebut kemudian ditetapkan dengan nama Sang Saka Merah Putih.
Kemudian pada 29 September 1950 berkibarlah Sang Merah Putih di depan Gedung Perserikatan Bangsa-Bangsa sebagai pengakuan kedaulatan dan kemerdekaan Bangsa Indonesia oleh badan dunia.
Bendera merah-putih mempunyai persamaan dengan bendera Kerajaan Monako, yaitu sebuah Negara kecil di bagian selatan Prancis, tapi masih ada perbedaannya. Bendera Kerajaan Monako di bagian tengah terdapat lambang kerajaan dan ukurannya dengan perbandingan 2,5 : 3, sedangkan bendera merah putih dengan perbandingan 2 : 3 (lebar 2 meter, panjang 3 meter) sesuai Peraturan Pemerintah No. 40 tahun 1958. Kerajaan Monako menggunakan bendera bukan sebagai lambang tertinggi karena merupakan sebuah kerajaan, sedangkan bagi Indonesia bendera merah putih merupakan lambang tertinggi.


sumber : http://misteri-us.blogspot.com/2010/04/misteri-sejarah-bendera-merah-putih.html

Indonesia, Salah Satu Pusat Peradaban Dunia



INDONESIAN POWER


Dalam perbincangan tentang peradaban tua dunia, Asia Tenggara hampir tidak pernah disebut. Kebanyakan pelajaran sejarah sekolah dan perguruan tinggi serta wacana umum selalu menyebut wilayah seperti Mesopotamia, Mesir, Sungai Indus, Tiongkok, dan Yunani sebagai cikal bakal peradaban dunia. Padahal dalam khasanah penemuan arkeologi Indonesia, banyak ditemukan aneka penemuan artefak prasejarah.
Ditemukannya kerangka manusia yang berumur jutaan tahun, seperti jenis Meganthropus paleojavanicus, Pithecantropus Erectus, dan berbagai macam homo, seperti Homo Soloensis dan Homo Wajakensis, kurang membangun teori asal usul peradaban. Sejarah selalu mencatat bahwa induk peradaban manusia modern itu berasal dari Mesopotamia, lembah Sungai Indus, China, Mesir, dan Yunani karena wilayah ini menyimpan banyak artefak dan peninggalan tertulis.
Namun, kini, tampaknya orang mulai berpikir ulang sejak kehadiran buku Atlantis karangan Arysio Nunes dos Santos yang menyebut Atlantis, yang tenggelam dengan peradaban tingginya, ada di Asia Tenggara. Buku  kini diperkuat dengan Eden In The East karangan Profesor Stephen Oppenheimer, seorang mahaguru dari Universitas Oxford Inggris. Dalam buku Eden In The East, Oppenheimer menyimpulkan bahwa Indonesia merupakan pusat peradaban dunia.
Artinya nenek moyang bangsa-bangsa di dunia ini atau induk peradaban modern sekarang ini berasal dari Indonesia dan menyebar ke seluruh penjuru Bumi. Dalam teorinya, Semenanjung Malaya, Sumatra, Jawa, dan Kalimantan dulu menjadi satu kesatuan dengan sebutan Sundaland. Karena mengalami banjir berkali-kali akibat melelehnya es di Kutub, wilayah ini terpisah oleh lautan.
Dalam sebuah pertemuan di LIPI, Oppenheimer mengatakan teorinya dibangun berdasarkan kajian kedokteran (DNA), geologi, linguistik, antropologi, arkeologi, dan folklore. Ilmu-ilmu ini, terutama geologi, mengemukakan alasan adanya Sundaland yang dulu bersatu. Yang pertama dikemukakan adalah naiknya permukaan air laut sebanyak tiga kali di wilayah ini antara 14.500 hingga 7.200 tahun (sebelum Masehi), yang menenggelamkan Paparan Sunda (Sundaland).
Teori ini merupakan teori umum yang sering dikemukakan para geolog. “Agak sulit untuk melihat mengapa ada beberapa penentangan terhadap konsep ini, yang sebenarnya sudah diterima oleh para geolog dan para sarjana lainnya sejak lama,” katanya. Dari kajian genetika, Oppenheimer menjelaskan dari Paparan Sunda yang terpecah ini, menyebar kehidupan menyeberang laut.
Penyebaran bukan hanya dekat di wilayah ini, namun juga ke Samudera Pasifik dan Samudera Hindia hingga ke Euroasia. Dalam pandangan Oppenheimer, orang Sumeria peletak dasar peradaban di Mesopotamia berasal dari Asia Tenggara. Kesamaan benda-benda Neolitik sekitar 7.500 tahun lalu menjadi salah satu bukti. Ciri fisik orang Sumeria yang bermuka lebar dan wajah tipikal orientalis menjadi bukti lainnya.
Teori genetikanya menyebutkan 90 persen penduduk Paparan Sunda telah ada di sana sejak 5.000 hingga 50.000 tahun lalu, bahkan beberapa di antaranya sebelum zaman es mencair dan menenggelamkan wilayah ini. “Derajat keberlanjutan genetik itu membantah pandangan ortodoks bahwa para petani padi Taiwan berbahasa Austronesia secara esensial menggantikan penduduk terdahulu dari Paparan Sunda 3.500 tahun yang lalu,” katanya.
Menurut terori sebelumnya, Sundaland belajar pertanian, peternakan dan mencari ikan dari orang-orang Taiwan yang berbahasa Austronesia sekitar 3.500 tahun yang lalu. Padahal menurut Oppenheimer, sejak ribuan tahun sebelumnya mereka telah memiliki nilai-nilai neolitik.
Oppenheimer mengatakan mereka sejak ribuan tahun lalu telah memiliki keahlian sebagai nelayan. Dari kajian linguistik yang mempelajari bahasa asli dari Sundaland, yaitu bahasa Austronesia, istilah pelayaran berasal dari Asia Tenggara, bukan dari Taiwan. Endapan Rawa Menurut Eko Yulianto, ahli geologi LIPI, apa yang dikemukakan oleh Oppenheimer memiliki bukti yang kuat dari teori geologi. Pengeborannya yang dilakukan di Laut Jawa pada kedalaman 9,7 meter menemukan adanya endapan rawa.
Diperkirakan umur endapan ini 6.000 tahun yang lalu. Di laut sebelah selatan Pulau Jawa, ia menemukan adanya fosil serbuk sari yang merupakan sisa dari tanaman jenis rumput-rumputan (graminae). Ia menduga bisa jadi serbuk sari ini merupakan berasal dari padi atau tumbuhan sejenis. Lebih lanjut, ia mengatakan teori Sundaland benar adanya karena dari kedalaman laut di wilayah terlalu dangkal jika dibandingkan dengan kedalaman laut Sulawesi, Laut Banda, Laut Aru, dan lainnya.
Kedalaman lautan di bekas wilayah Sundaland ini hanya berkisar 10-30 meter. Di daratan, teori tentang manusia purba dengan peradabannya yang tinggi bisa ditemukan di Gua Pawon di Bandung. Dari penenyam perkakas dan bahan bakunya sangat beragam, mulai dari batuan obsidian yang hanya bisa ditemukan di Nagrek, Garut atau Sukabumi.
Serta gigi ikan hiu yang hanya bisa ditemukan di laut sekitar Subang. Ini artinya mobilitas penghuni Gua Pawon sudah tinggi dan peradabannya sudah sangat maju. Dibandingkan dengan teor i Atlantis, menurut Eko, Eden In The East lebih ilmiah. ”Dibandingkan dengan yang ditulis Santos dalam Atlantis apa yang dikemukakan Oppenheimer lebih masuk akal,” ujarnya. Pasalnya, selama ini Atlantis banyak menautkan teorinya dengan bukti mitologis, dan beberapa bukti yang kurang ilmiah lainnya.
Apalagi Santos belum pernah datang ke Indonesia dalam membangun teorinya dan lebih berdasarkan studi pustaka. Hary Harjono, Deputi Ilmu Pengetahuan Kebumian LIPI, mengatakan teori Oppenheimer, meski mendapat banyak dukungan, perlu pembuktian lebih lanjut. Dengan berbagai teknologi yang ada sekarang, bermacam hal yang dikemukakan Oppenheimer dapat dibuktikan.
“Dengan melacak DNA dan teknologi kelautan dan berbagai macam disiplin teori dalam Eden In The East dan Atlantis, dapat dibuktikan,” jelasnya. Menurut Jimly Asshiddiqie yang sejak lama sangat menginginkan buku Eden In The East diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, jika teori yang dibangun oleh Profesor Oppenheimer benar, hal ini akan membalikkan seluruh asal usul peradaban. “Sekarang orang Jepang tidak lagi menyebut dirinya saudara tua. Kita yang saudara tua,” pungkasnya

Sumber ;
http://www.metasains.com